Zat Warna Reaktif

                                                        Zat Warna Reaktif
http://4.bp.blogspot.com/
by: Irvan Handri Setyo Budi
      budiirva346@ymail.com
     Textie Departement

Zat warna reaktif adalah suatu zat warna yang dapat mengadakan reaksi dengan serat (ikatan kovalen) sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. Zat warna reaktif termasuk golongan zat warna yang larut dalam air. Karena mengadaka reaksi dengan serat selulosa, maka hasil pencelupan zat warna reaktif mempunyai ketahanan luntur warna yang sangat baik. Demikian pula karena berat molekul kecil maka kilapnya baik. Berdasarkan cara pemakaiannya, zat warna reaktif digolongkan menjadi dua golongan yaitu zat warna reaktif dingain dan reaktif panas.

          Zat warna reaktif panas
Yaitu zat warna reakrif yang mempunyai kereaktifan rendah, dicelup pada suhu tingi. Misalnya Procion H, Cibacron dengan sistem reaktif mon kloro triazin, remazol dengan sistem reaktif vinil sulfon. Didalam air, zat warna reaktif dapat terhdidrolisa, sehingga sifat reaktifnya hilang dan hal ini menyebabkan penurunan tahan cucinya. Hidrolisa tersebut menurut reaksi sebagai berikut:
D - Cl + H2O → D – OH + HCl


                  REAKSI FIKSASI DAN HIDROLISIS ZAT WARNA REAKTIF JENIS VINIL SULFON
Sumber: Dr.Noerati,S.Teks,M.T,dkk,Bahan Ajar Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru (PLPG) Teknologi Tekstil, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung, 2013

Jenis zat warna ini merupakan jenis zat warna reaktif yang bereaksi dengan serat melalui mekanisme adisi nukleofilik. Dilihat dari reaksinya, zat warna ini cocok untuk dicelup dengan metoda pre pad alkali dan metoda all in yang pemasukan alkalinya didepan. Kelebihan zat warna vinil sulfon adalah relatif lebih tahan laklai, tetapi kelemahannya adalah hasil celupnya mudah rusak oleh pengerjaan dalam suasana alkali, contohnya apabila hasil celupnya dilakukan proses pencucian dengan sabun dalam suasana alkali dengan suhu yang terlalu panas maka ketuaan warnanya akan sedikit turun lagi.
          
            Mekanisme Pencelupan

Dalam proses pencelupan reaksi fiksasi zat warna reaktif dengan serat terjadi simultan dengan reaksi hidrolisis antara zat warna dengan air. Kereaktifan zat warna reaktif meningkat dengan meningkatnya ph larutan celup. Oleh karena itu pada dasarnya mekanisme pencelupan zat warna reaktif terdiri dari dua tahap. Tahap pertama merupakan tahap penyerapan zat warna reaktif dari larutan celup kedalam serat. Pada tahap ini tida terjadi reaksi antara zat warna dengan serat karena belum ditambahkan aklai. Selain itu, karena reaksi hidrolisis terhadap zat warna lebih banyak terjadi pada ph tinggi, maka pada tahap ini zat warna akan lebih banyak terserap kedalam serat dari pada terhidrolisis. Penyerapan ini dibantu dengan penambahan elektrolit.
Tahap kedua, merupakan fiksasi, yaitu reaksi antara zat warna yang sudah terserap berada dalam serat bereaksi dengan seratnya. Reaksi ini terjadi dengan penembahan alkai.
D – Cl + Selulosa – OH → D – O – Selulosa + HCl
Na OH + HCl → NaCl + H2O

Reaksi antara gugus OH dari serat selulosa dengan zat warna reaktif dapat dgolongkan menjadi dua, yaitu:
     
             a.    Reaksi substitusi
Membentuk ikatan pseudo ester (ester palsu) misalnya pada pencelupan serat selulosa dengan zat warna reakstif Procion, Cibacron dan Levatix.

             b.    Reaksi adisi
Membentuk ikatan eter, misalnya pada pencelupan serat selulosa dengan zat warna reaktif remazol.

Fator-faktor yang berpengaruh

Pada pencelupan zat warna reaktif, 4 faktor utama perlu mendapatkan perhatian agar dapat diperoleh hasil yag memuaskan. Keempat faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut:

           a.    Pengaruh ph larutan
Fiksasi zat warna reaktif pada serat selulosa terjadi pada ph 10,5 – 12,0. Pada ph tersebut zat warna reaktif yang sudah terserap didalam serat akan bereaksi dengan serat. Seperti itulah diterangkan diatas bahwa reaksi zat warna reaktif dengan serat selulosa terjadi pada ph tinggi oleh adanya peambahan alkali. Walapun reaksi hidrolisis zat warna reaktif dengan air terjadi pada ph yang tingi, namun reaksi hidrolisis tersebut sangat sedikit kemungkinan terjadinya karena zat warna telah terserap kedalam serat. Oleh karena itu, penambahan alkali dilakukan pada tahap kedua setelah zat warna terserap oleh serat. Apabila alkali tersebut dilakukan pada proses awal, maka kemungkinan besar akan tejadi hidrolisa.
         
          b.    Pengaruh Perbandingan Larutan Celup
Perbandingan larutan celup artinya perbandingan antara besarnya larutan terhadap berat bahan tekstil yang diproses, penggunaan perbandingan larutan yang kecil akan menaikan konsentrasi zat warna dalam larutan. Kenaikan konsentrasi zat warna dalam larutan tersebut akan menambah besarnya penyerapan. Maka untuk mencelup warna-warna tua diusahakan untuk memakai perbandingan larutan yang kecil.

           c.    Pengaruh Suhu
Pada pencelupan dengan zat warna reaktif maka penambahan suhu akan meyebabkan zat warna mudah sekali bereaksi dengan air, sehingga dapat menyebabkan berkurangnya afinitas zat warna dan kemungkinan terjadi penurunan daya serap (substantivitas) juga lebih besar sehingga dapat menurunkan efisiensi fiksasi. Kerugian karena penurunan efisiensi fiksasi ini dapat diatasi dengan pemakaian pH yang terlalu tingi, oleh karena itu faktor suhu pencelupan dan pH larutan celup memegang peranan penting didalam proses pencelupan dengan zat warna reaktif. Zat warna reaktif mempunyai kereaktifan tinggi, dicelup pada suhu kamar akan tetapi zat warna reaktif yang mempunyai kereaktifan rendah memerlukan suhu pencelupan minimal 70 .

           d.    Pengaruh Elektrolit
Pengaruh elektrolit pada pencelupan zat warna reaktif seperti halnya pada zat warna direk. Makin tinggi pemakaian elektrolit, maka makin besar penyerapannya. Jumlah pemakaia elektrolit hampir mencapai sepuluh kali lipat dari pada pemakaian zat warna direk.

           Zat Pembantu Pencelupan Selulosa dengan Zat Warna Reaktif Panas

Zat pembantu yang perlu ditambahkan pada larutan celup antara lain elektrolit (Na2SO4, NaCl), Na2Co3 dan Pembasah. Selain itu dapat juga ditambahkan zat pelunak air, zat anti crease mark dan zat anti reduksi. Fungsi masing-masing zat adalah sebagai berikut :
Ø  NaCl berfungsi untuk mendorong penyerapan zat warna
Ø  Na2Co3 berfungsi untuk fiksasi zat warna
Ø  Pembasah berfungsi untuk meratakan dan mempercepat proses pembasahan kain sabun untuk proses pencucian setelah proses pencelupan guna menghilangkan zat warna reaktif yang terhidrolis yang ada dalam kain hasil celupan.



Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar:

Tommy het gesê...

Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan konsultasi kepada Anda mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.

Salam,

Tommy.k
081310849918
Email: Tommy.transcal@gmail.com

Management

OUR SERVICE
Boiler Chemical Cleaning
Cooling tower Chemical Cleaning
Chiller Chemical Cleaning
AHU, Condensor Chemical Cleaning
Chemical Maintenance
Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
Degreaser & Floor Cleaner Plant