Polimer dan Hubungannya dengan serat Sintetik

Polimer merupakan molekul besar yang tersusun dari unit kimia kecil dan sederhana dan terikat secara ikatan kovalen. Unit kimia kecil dan sederhana disebut monomer. Unit kimia kecil yang berulang ditulis didalam tanda kurung. sedangkan gugus ujung yang spesifik ditulis diluar tanda kurung. Panjang rantai polimer ditentukan seberapa besar jumlah pengulangan monomer, ditulis dengan notasi “n” atau disebut derajat polimerisasi (DP). Jumlah pengulangan monomer akan menunjukkan seberapa panjang rantai polimer yang terjadi. Jika pengulangan unit molekul hanya beberapa buah, misal dibawah 7 maka disewbut oligomer. Contoh cara penulisan polimer seperti dibawah ini.


PENGGOLONGAN POLIMER
Penggolongan polimer dapat berdasarkan beberapa macam diantarnya berdasarkan sumbernya, bentuk polimer, sifat termal, cara pembuatan / sintesis dan lain-lain.

1.Sumber Polimer
Polimer dapa bersumber dari alam karena keberadaanya sudah tersedia dialam. Contohnya selulosa, protein, isoprena. Selain dari alam polimer juga dapat disintesis dari senyawa kimia seperti contohnya polimer polietilena tereftalat yaitu poliester yang disintesis dari etilena glikol dan asam tereftalat. Kemudian juga poliakrilat yang berasal dari sintesis vinilsianida.

2. Bentuk polimer
Pilomer linier merupakan polimer berantai lurus, tidak bercabang kecuali gugus substitusinya yang umumnya kecil.

Bentuk polimer yang linier menyebabkan rantai polimer mudah bergerak ketika dipanaskan yang dikenal dengan sifat Termoplastik.  Sifat termoplastik yang dimiliki polimer memudahkan pembentukan polimer dengan pemanasan. Salah satunya adalah pembentukan serat tekstil dengan metoda pemintalan leleh. Polimer bercabang merupakan polimer yang memiliki cabang yang cukup besar ukuran molekulnya selain rantai utama. dibawah ini adalah contoh polimer bercabang.

Adanya cabang-cabang pada rantai polimermenyebabkan polimer jenis ini relatif sukar dibentuk menjadi bentuk serat. Pembentukan menjadi serat masih memungkinkan jika cabang atau gugus substitusi yang dimilikinya relatif kecil.
Polimer jaringan (network),polimer ini membentuk ikatan silang diantara rantai utama

Polimer jaringan mempunyai sifat kaku, keras dan sukar dibentuk  karena adanya ikatan silang diantara rantai molekul sehingga seolah-olah rantai molekul saling “berpegangan” sehingga sulit bergerak. Pembentukan dapat dilakukan pada saat pemanasan pertama sebelum terbentuk ikatan silang, polimer dibentuk dengan metoda RIM (Reaction Injection Molding). setelah terbentuk  dan terjadi ikatan silang, bentuk yang dihasilkan sukar untuk diubah kembali. Contohnya adalah penggunaan polimer berikat silang seperti peralatan makan yang terbuat dari melamin. Polimer berikat silang tidak dapat dibuat menjadi serat tekstil.

3. Sifat termal polimer

a. Polimer termoplastis
Polimer termoplastis memiliki sifat mudah larut dalam pelarut, melunak  dan melebur jika dipanaskan. Polimer tersebut merupakan polimer linier atau bercabang dengan gugus samping kecil.

b. Polimer termosetting
Polimer termosetting umumnya erupa polimer berikasilang. Polimer tersebut sulit atau tidak melarut, hanya melunak dalam pelarut, memiliki massa molekul besar.

c. Derajad Polimerisasi
Derajad polimerisasi menyatakan panjang rantai atau jumlah unit kimia yang berulang, umunya dinyatakan dalam huruf n dibelakang penulisan monomer seperti yang ditunjukkan pada gambar polimer selulosa dibawah ini. Besar “n” menentukan besarnya massa molekul polimer, dan merupakan jumlah total unit struktur, termasuk gugus ujung.

Contoh, pada selulosa jika n 500, massa monomer 180, maka massa molekul tersebut :500 x 180 = 90.000. Panjang rantai polimer tidak seluruhnya sama, tetapi hampir selalu bervariasi, oleh karenanya derajat polimerisasi dinyatakan dalam derajad polimerisasi rata-rata.

D. Proses Polimerisasi
Proses polimerisasi adalah proses pembentukan polimer dari monomer melalui reaksi polimerisasi. Polimerisasi dapat terjadi dengan model bertahap (reaksi tahap atau pertimbuhan rantai) dan atau propagasi atau petumbuhan rantai (reaksi rantai atau pertumbuhan rantai). Sintesis polimer berdasarkan reaksi yang terjadi dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu polimer kondensasi dan polimerisasi rantai.

1. Polimer kondensasi
Polimer kondensasi merupakan polimer hasil reaksi kondensasi dari monomer-monomer saat berpolimerisasi. Polimerisasi bertahap terjadi dalam dua cara pertama (a) karena masing-masing molekul memiliki dua gugus fungsi reaktif, dan yang kedua (b) karena masing-masing monomer memiliki dua gugus fungsi, seperti yang disajikan pada gambar dibawah ini.

gambar diatas merupakan reaksi polimerisasi bertahap dari senyawa yang memiliki dua gugus fungsi pada masing-masing molekul. Dan gambar dibawah ini  adalah reaksi polimerisasi bertahap dari monomer yang memiliki dua gugus fungsi pada msing-masing monomer.

Pada polimerisasi bertahap massa molekul bertambah sedikit demi sedikit meskipun konversi monomer tinggi. Hasil reaksi berupa senyawa / molekul yang mempunyai massa molekul dua kali semula. Apabila senyawa dua molekul ini bereaksi dengan cara yang sama akan terbentuk molekul baru yang mempunyai massa molekul empat kali semula dan seterusnya sehingga terbentuk suatu senyawa yang mempunyai rantai panjang dan massa molekul ruang sangat besar. Dibawah ini adalah contoh polimerisasi bertahap .

a. Ciri-ciri polimerisasi bertahap atau kondensasi
1. Polimer terbentuk dari monomer difungsional, pengertian monomer yaitu:
              - Senyawa atau molekul yang memiliki dua gugus reaktif
              - Monomer yang memiliki dua gugus fungsi
2. Jika monomer memiliki lebih dua gugus fungsi akan terbentuk polimer jaringan sehingga akan menyulitkan proses pembentukan polimer.
3. Pada akhir reaksi polimerisasi, gugus fungsi tetap ada.
4. Massa molekul naik secara perlahan (bertahap)

b. Kelemahan polimerisasi tahap
1. Sulit diperoleh massa molekul yang tinggi, oleh karenanya perlu penghilangan produk samping agar produk reaksi yang tinggi.

molekul air harus selalu diambil, misalnya destilasi agar reaksi bergeser kekanan, sehingga dihasilkan produk reaksi yang besar.
2. Kecenderungan membentuk senyawa siklik yang beranggotakan 5 atau 6 molekul.

c. Cara mengatur massa molekul polimerisasi tahap
Pengaturan massa molekul dapa dilakukan dengan cara:
     - Pendiginan secepat mungkin saat viskositas intrinsik tercapai, sehingga laju reaksi                 berhenti.
     - Membuat campuran tidak equivalent
    - Menambah gugus senyawa dengan gugus fungsional

2. Polimerisasi Rantai (Chain Polymerisation)
Reaksi terjadi didalam rantai, oleh karena itu disebut polimerisasi rantai. Polimer disintesis melalui reaksi adisi ikatan rangkap. Dibawah ini contoh reaksi polimerisasi rantai.

Polimerisasi terjadi pada ujung rantai yang tumbuh dan melibatkan dua tahap kinetik yang berbeda, yaitu inisiasi dan propagasi. Pada reaksi inisiasi diperlukan inisiator agar monomer reaktif untuk memulai suatu reaksi polimerisasi, sehingga pertumbuhan rantai karena reaksi propagasi pada ujung rantai akan terus berlangsung sampai terjadi terminasi, yaitu mentiadakan ujung rantai yang reaktif. Reaksi terjadi pada ujung rantai menyebabkan massa molekul bertambah dengan cepat meskipun sisa monomer masih cukup banyak.

a. Ciri Polimerisasi Adisi
Polimerisasi adisi memiliki ciri khas yaitu:
     - Monomer mempunyai ikatan rangkap
     - Untuk  dapat terjadi pertumbuhan rantai memerlukan inisiator agar terjadi pembentukan
       gugus reaktif.
     - Polimerisasi terjadi secara cepat
     - Dapat mencapai massa molekul yang besar.

b. Tahapan Reaksi polimerisasi Adisi

Dibawah ini adalah perbandingan polimerisasi tahap dan rantai yang disajikan dalam tabel.
Polimerisasi tahap
Polimerisasi rantai
1. Pertumbuhan terjadi pada seluruh matrik, melalui reaksi monomer, oligomer-polimer.
2.  DP Rendah sampai sedang.
3. Monomer dikonsumsi dengan cepat tetapi massa molekul bertambah dengan perlahan-lahan.
4. Mekanisme pertumbuhan seragam, tidak perlu inisiator.
5. Tidak ada terminasi, tetap terdapat gugus ujung yang aktif.
1. Pertumbuhan terjadi melalui unit monomer berturut-turut tumbuh.
2. DP tinggi
3. Konsumsi monomer lembat, tetapi pertumbuhan massa molekul cepat.
4. Mekanisme inisiasi, propagasi dan terminasi berbeda.
5. Saat terminasi gugus reaktif habis

E. STRUKTUR POLIMER
Susunan rantai polimer didalam serat berupa gabungan dari rantai-rantai polimer yang terjadi dari bagian-bagian teratur dan tidak teraur. Bagian yang teratur disebut bagian kristalin, sedangkan yang tidak teratur disebut bagian amorf. Seperti gambar dibawah ini.

Pada daerah kristalin rantai polimer tersusun dengan rapat, sehingga timbul gaya tarik antar molekulnya sehingga menyebabkan molekul didaerah krsitalin sulit berubah. Adanya susunan yang rapat pada daerah krsitalin akan mempengaruhi sifat mekanik polimer yang dihasilkan. Semakin besar daerah kristalin semakin besar kemampuan polimer menahan gaya, tetapi dengan susunan kristalin yang rapat polimer menjadi kaku dan getas.
Daerah amorf memiliki susunan rantai polimer yang tidak teratur sehingga lebih longgar satu sama lain. Susunan yang tidak raat selain memudahkan molekul bergerak lebih leluasa juga memungkinkan masuknya molekul lain misalnya air atau zat warna ke dalam daerah amorf tersebut. Perbandingan luas daerah kristalin dengan amorf disebut derajat kristalinitas.  Serat yang memiliki derajat kristalinitas yang tinggi akan memiliki kekuatan tarik yang tinggi, tetapi bersifat getas atau memiliki mulur saat putus yang rendah. Adanya daerah amorf pada sserat menyebabkan serat dapat diwarnai dengan pencelupan atau pencapan.

Pada daerah kristalin rantai molekul tersusun teratur sama lain masih memiliki orientasi atau arah rantai yang tidak selalu sama. Pada pengolahan polimer kadangkala diperlukan keteraturan arah dari kristalin pada satu arah tertentu. Pada polimer serat keteraturan arah tersebut umumnya mengarah kepada sumbu serat. Dengan mengarahlkan rantai-rantai polimer searah sumbu serat akan menaikkan kekuatan dan kilau serat, tetapi menurunkan sifat elastisnya sehingga serat menjadi kaku dan geats. Kesejajaran rantai molekul searah sumbu serat disebut derajad orientasi.

Untuk mendapatkan atau menaikkan derajat orientasi dapat dilakukan dengan proses oenarikan. Dengan adanya proses penarikan maka rantai polimer akan cenderung mengatur diri searah dengan arah penarikan, sehingga didapatkan susunan molekul yang lebih teratur. Susunan rantai molekul  sebelum dan sesudah penarikan dipat dilihat seperti gambar dibawah ini.

oleh: Irvan Handri S.B
         STT Tekstil, Bandung
         budiirvan346@ymail.com

disalin dari sumber bacaan “Bahan Ajar Pendidikan & Pelatihan Profesi Guru (PLPG)” Teknologi Tekstil, Dr.Noerati., S.Teks.,MT,dkk, STT Tekstil, 2013.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar: